Monday, December 31, 2012

Tulisan Bermakna, Walaupun Copy-an

Bismillah.
Assalamualaikum!

Wah, di penghujung tahun 2012 nih? Ah bagi gue tidak ada yang spesial, apalagi dengan event tahun barunya, hehe. Entah, gue berusaha untuk tidak larut dalam suasana yang... ah, you know lah. Oke, niat gue di sini bukan untuk membahas soal  Happy New Year atau hal-hal lain sejenisnya. But, gue mau share beberapa hal yang bagus!

Semalam gue baru saja mendapatkan link ini http://www.facebook.com/notes/pak-haryo/menjadi-asing-simpanan-untuk-anakku-suatu-saat-kelak/10150722212237343 dari salah seorang teman (baru) akhwat dari komunitas FRA, Forum Rohis Alumni (Bandung). Apa sih isinya? Nah, kalau ada yang mau baca dari blog gue, sok, mangga, akan gue copy di sini ☺ dan yang jelas, itu bukan karya gue, jadi gue jujur, hanya ingin sekadar sharing dan tidak mengambil hak cipta orang, hehe ☺ here it is!


Menjadi Asing (Simpanan Untuk Anakku, Suatu Saat Kelak)






Nak, ayah sengaja bawa kamu ke sini karena mau ngomong serius sama kamu. Sekarang kamu sudah baligh. Kamu relatif sudah bisa membedakan yang benar dan yang enggak. Tapi kamu masih terlalu muda buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di depan kamu itu.

Nak, apa kamu pernah menerka kenapa ayah sangat membatasi kamu nonton TV, kenapa ayah sering potong kabel TV yang baru dibeli ibumu? Apa kamu tahu kenapa ayah sering ajak kamu menjauhi keramaian, kenapa ayah sering banting pemutar musik kamu? Kamu tahu, nak? Itu karena ayah sayang kamu dan gak mau kamu jadi orang-orang bentukan media mainstream yang gak islami.

Pada umumnya mereka itu bikin kamu tahu dalam ketidak tahuan. Kamu jadi tahu cara bikin orang ketawa, cara supaya dunia melihat kamu, cara berbahasa yang up to date, dan cara tetap ikut tren. Kamu jadi tahu si artis anu lagi bunting 7 bulan. Kamu dijejali dengan informasi-informasi gak penting, se-gak penting artis anu baru ngerayain ulang tahunnya di Food Court Pondok Indah Mal.Tapi nak, kamu gak diajarin kamu harus gimana kalau kamu mimpi basah, apa yang harus kamu lakukan kalau mau nikah tapi belum siap. Kamu gak diajarin bahwa onani itu masuk dalam tujuh dosa besar. Kamu gak diajarin cara milih calon pasangan hidup yang benar, apa kriterianya.

Kamu jadi tahu batasan HAM tapi tidak hukum islam. Kamu jadi tahu cara ngitung PPn, tapi ngitung zakat kebun kamu sendiri aja bingung. Kamu jadi tahu di Bangladesh itu orang kebanjiran terus, tapi kamu malah gak tahu komplek sebelah kita juga kebanjiran. Siaran setengah jam pagi-pagi itu jelas kurang nak. Bahkan kamu sama sekali gak dibikin ngerti cara baca Quran. Bedain “fa” sama “qof” aja gak bisa, gimana mau paham, anakku?

Kamu nanti malah jadi bingung, di TV diajarin menikah sama anak di bawah umur itu bejat gak ketulungan, apa kamu mau bilang Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah umur 6 tahun itu bejat? Di TV diajarin makan jilat tangan itu gak sopan, tapi di hadits kamu temui sunahnya itu malah jilat tangan. Di TV diajarin kalau ketemu orang itu salaman, padahal di hadits yang kamu pelajari, lebih baik kamu ditusuk besi panas daripada bersentuhan dengan bukan mahrom. Di TV disiarkan bahwa lesbi dan homo itu manusiawi dan sudah lazim, tapi di hadits, mereka itu layak dihukum mati.

Ayah paling takut kamu mengarah ke logika-logika praktis begitu. Ayah takut kamu menomorduakan Quran Hadits karena gak logis menurut kamu. Camkan ini nak, agama itu bukan dibangun dari logika, dan agama itu jauh dari kelogisan-kelogisan yang ada di novel Sophi’s World, walaupun dia jadi best seller internasional selama beberapa tahun. Nak, Al-Quran itu sudah jadi super best seller se-semesta selama belasan abad.

Kalau agama ini menuruti kelogisanmu, gak akan ada cerita 313 pasukan islam dengan perbekalan dan senjata yang jauh dari memadai bisa menang melawan 1.000 pasukan kafir dengan perbekalan dan senjata yang berlebihan waktu perang Badr. Gak akan ada cerita pasukan islam masih bertahan di perang Khandaq setelah dikepung dari segala penjuru. Gimana mungkin ada bantuan angin dalam perang di abad ketujuh? Nonsense! Itu semua gak akan masuk ke logikamu, nak.Kamu akan wudhu dengan membasuh duburmu kalau kamu mau ikut logika, tapi bukan begitu yang diajarkan, nak. Kita gak tahu apa-apa. Keimanan itu bukan kelogikaan. Iman itu artinya percaya. Percaya bahwa aturan itu tepat walau gak masuk logika kamu.

Itu kenapa kamu harus mendalami Quran Hadits dengan mantap. Kamu tahu kan, bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada tiga: ayat yang menghukumi, sunah yang ditegakkan, dan ilmu hukum waris. Intinya kamu wajib belajar Quran Hadits. Ilmu yang di luar itu statusnya cuma ilmu tambahan. Ayah sama sekali bukan melarang kamu sekolah sampai title kamu 10 biji, kalau ada. Sekolahlah tinggi-tinggi, cari ilmu sebanyak-banyaknya, itu positif.

Ayah cuma takut, kamu bisa menghitung bulan itu tepat ada di atas kepala kamu pada tanggal berapa jam berapa, tapi kamu kebingungan ngitung waris waktu ayahmu ini meninggal. Ayah takut kamu bisa fasih luar biasa berbahasa Inggris, tapi salam aja ngomongnya “semlekum”. Ayah gak mau kamu hapal irregular verb dan certain adjective, tapi gak hapal siapa saja mahrom kamu.

Ayah gak mau kamu bisa bedain processor bagus dan enggak, bisa bedain awan cumulus dan nimbus, bisa bedain membran sel dan membran mitokondria, tapi kamu gak bisa bedain halal-haram dan suci-najis. Dan hal-hal semacam itu. Ayah takut kamu kuasai dunia tapi gak ngerti hukum islam, nak.

Ayah gak kebayang, pascatiada nanti kamu jawab apa waktu ditanya, “Kenapa dulu kamu lebaran duluan dibanding tetanggamu?” Apa kamu bakal jawab, “Abis di tanggalan lebarannya tanggal segitu, saya kan gak tahu aturan sebenarnya gimana.” Terus ditanya lagi, “Lantas, kenapa kamu tidak cari tahu ilmunya?” Apa kamu berani jawab begini, “Saya kan mau sekolah sampai S3, mau punya rumah besar, mau jadi anggota dewan, target saya banyak, jadi belum sempat mendalami islam.” Berani?

Al ‘ilmu qobla ‘amal, nak. Beramal setelah kamu punya ilmunya, jangan sembarangan ikut-ikutan. Orang tahlilan kamu ikut tahlilan. Orang pacaran kamu ikut pacaran. Aduuuh, nak. Jangan. Jangan jadi orang yang “qila wa qola”, masih gak jelas dasarnya, eh malah disampaikan. Jangan katanya katanya. Kamu harus tahu betul apa dalilnya, hukumnya gimana, baru bisa melakukan atau menanggapi sesuatu. Kamu tahu kan, qila wa qola itu termasuk satu dari tiga hal yang dibenci Allah? Coba buka lagi kitab Muslim kamu.

Dalamilah ilmu agama, nak. Malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya karena senang padamu yang sedang mencari ilmu. Sampai ikan-ikan di lautan, semua mendoakanmu, nak. Kalau kamu jadi pengajar dan pengamal Al-Quran, ayah bakal dapat mahkota emas yang terangnya lebih dari matahari. Itu jauh lebih membanggakan dari ayah dipanggil mau diberi penghargaan karena kamu meraih nobel. Ayah dapat mahkota, kamu tentu dapat lebih dari itu, nak.

Setelah ilmumu kuat, aplikasikan, sebarkan, dan perjuangkanlah semaksimal yang kamu bisa, nak. Jangan takut cacian orang. Jangan menyerah walau sedunia ini memusuhi kamu. Gigit agamamu dengan gigi geraham. Lebih baik kamu hidup dengan ngangon kambing di Gunung Leuser sana ditemani 200 harimau sumatera daripada kamu hidup makan enak dan mudah tapi gak bisa aplikasikan agamamu.

Nak, dari dulu orang hebat itu selalu dianggap asing di zamannya. Itu bukan berarti kamu harus menjadi asing, nak, bukan. Tapi, risiko kamu “diasingkan” masyarakat itu besar kalau kamu bawa nilai-nilai baru, atau nilai-nilai lama yang dianggap baru.Anak muda seperti kamu punya tenaga dan semangat yang jauh lebih besar daripada orang tua kayak ayah begini. Ibnu Umar, pada usia 13 tahun ingin ikut dalam Perang Badr, tapi dilarang, nak, karena masih terlalu muda. Ia akhirnya ikut dalam perang Khandaq pada umur 15 tahun. Sejak belia, beliau senang mencari ilmu, nak. Beliau menjadi periwayat hadits kedua terbanyak setelah Abu Hurairoh.

Kamu tentu sering dengar Ali bin Abi Thalib, anakku. Beliau sudah menjadi bintang lapangan pada Perang Badr, saat usianya masih sekitar 25 tahun. Beliau menjadi pimpinan pasukan Perang Khaibar, beberapa tahun kemudian, yang akhirnya menang gemilang. Beliau yang membunuh Marhab, panglima besar Yahudi. Semua dalam usia belia, anakku.

Imam Bukhori yang menyusun hadits tershahih sampai sekarang, beliau mulai berkelana pada umur 16 tahun. Jiwa muda yang tetap teguh belasan tahun menghimpun hadits-hadits shahih. Kamu tahu apa yang terjadi pada Imam Bukhori, anakku? Beliau diusir dari kampung dan menjadi musuh banyak orang pada zaman itu. Tapi itu tidak membuatnya gentar.Selanjutnya giliran kamu yang meneruskan perjuangan. Selamat berjuang nak, luruskan niat, ayah selalu mendoakan.

Oleh Muhammad Iqbal

Tuesday, December 18, 2012

Bye Lakon... Formica, Go Get'em!

Assalamualaikum!

Hampir empat bulan ya gue vacuum dari kegiatan tulis-menulis (ketik-mengetik) di blog ini. Iya, sibuk kuliah euy... *gaya*

So, what's up? Hm... MMMBUUUANYAK BANGET yang mau gue ungkapkan selama empat bulan terakhir ini! Dimulai dari masa PAB: Ormosia dan Oricula yang penuh dengan drama; keikutsertaan gue dalam Teater Lakon di Festamasio dan FTI, lanjut PAB: LKM yang membuka seluk-beluk kehidupan (tujuan utama) seorang 'mahasiswa' dan mengajarkan bagaimana ber-AKSI hingga dinobatkan menjadi Anggota Biasa; ikut panitia sana-sini, berusaha menyatukan angkatan, stress kebanyakan kegiatan, menetapkan calon istri...(?) lupakan. Lanjut, terus nginep di rumah Sky berkali-kali hingga terjerumus dalam komunitas-komunitasnya, dan yang terbaru adalah keseruan di acara Forest For Us 4! Whohooo!

Jadi... apa? Nah, bingung sendiri kan? Iya. Heran, giliran sedang tidak berhadapan dengan Prof. Semut, laptop gue, rasanya semua pemikiran-pemikiran gue ini menumpuk di otak. Eeehhh... giliran sekarang, tangan sudah berusaha menari di atas keyboard, there isn't any idea out of my mind. Sedih.

Intinya sih adalah... Di sini, officially, gue ingin menyatakan bahwa diri gue: resign dari Teater Lakon. WHYYYYY?! Teringat kata-kata (kunci) Kak Saleh, "Utk saat ini tugas utama hidup kita apa?" serta wejangan dari Kang Zamzam yang cetar membahana... (?)

Jujur saja, seharusnya sebulan kemarin setiap hari Rabu dan Sabtu sore sampai malam gue harus mengikuti diklat Teater Lakon, sebagai alur kaderisasinya. But, karena di jurusan yang notebenenya masih gue nomorsatukan, dengan kegiatan-kegiatan di mana "urang deui, urang deui", yaaa... I felt sooo capek. Waktu untuk datang diklat pun tak terpenuhi. Masih gue ingat, hanya sekali gue datang diklat dan itu pun di hari pertama, materinya olah tubuh. Tidak bisa gue pungkiri, ilmu-ilmunya amat saaaaangat bermanfaat, tidak hanya untuk kehidupan di teater, tapi untuk kehidupan sehari-hari. Itu baru olah tubuh lho. Belum yang lain-lain. Tapi... dengan ikhlas gue harus 'menunda' mimpi gue dalam bidang ke-teater-an itu.

Ya mau bagaimana lagi? Kata para pendahulu gue (baca: kakak tingkat), terutama yang kelas C, semester dua itu adalah semester yang padat. Sampai dibilang, "kalian nikmatin aja semester satu, nikmatin tidur, ikutin panitia sana-sini... karena masih kosong banget. Nanti deh pas semester dua, beeeuuuhhh..." (btw, mungkin yang gue tulis ini tidak identik dengan yang aslinya pas dituturkan) begitu. Mendengarnya, gue menjadi semakin yakin bahwa mau tidak mau gue harus fokus terhadap jurusan gue. Kalaupun mau ber-kegiatan (read: mengembangkan diri), ya di jurusan saja. Toh, jurusan gue itu, Jurusan Pend. Biologi UPI, memiliki se-GUDANG kegiatan yang waow bangete. Iya, waow bange-te. Dan sekali lagi, advice dari Kang Zammy pun sangat gue resapi maknanya. Yup! Bismillah!

So? Ya, dengan penuh keikhlasan (harus), gue melepas TEATER Lakon, untuk saat ini dan fokus terhadap Jurusan gue, terutama keluarga/angkatan/Formica 2012 yang sudah gue cintai dan sayangi... karena ALLAH SWT. Dan untuk Teater Lakon beserta spesies-spesies di dalamnya, gue mengucapkan TERIMA KASIH BANYAK karena telah membiarkan gue merasakan dunia ke-teater-an yang luar biasa di Lakon. Setengah semester pertama bersama Lakon benar-benar suppperrrppp banget! Buat teman-teman yang masih diklat, keep fighting ya! Apalagi Rahayu nih, teman sejurusan yang akhirnya tetap bertahan, di mana gue yang awal-awal terlihat semangat, sekarang malah mundur, hehe, maaf ya Yu... But, lo strong kok! Hebat! Pokoknya kalian harus semangat deh! Pasti bisa menjadi pengurus Lakon periode selanjutnya dan yang pasti menjadi angkatan yang solid serta... IKHLAS! Dan akang-akang/teteh-teteh senior yang keren banget ilmunya, terima kasih banyak... Terutama untuk Kang Bahuy dan Teh Dewi, ah cetar sekali. Serta senior-senior lainnya di Lakon yang tidak bisa saya sebut satu per satu, kalian keren banget deh. Hm... wajib lah ya berikan saya info kalau Lakon ada pertunjukan. InsyaAllah, saya sempatkan waktu untuk "menikmati-nya", hehe. Sedih nggak sih ini posting-an? Nggak ya? Hahaha, kurang deep berarti ya. Sekali lagi, MAAF dan TERIMA KASIH.

Salam Cinta.

Ila liqo,
Wassalam!