Waow, it's been a long time after I posted my last posting. As usual, I just wanna remember you all, my XII grade-friends that there are 101 days left before the day of UN! Ayo, tingkatkan semangat belajar yang optimal ya!
Yak, walaupun UN akan mendatangi kita dalam hitungan hari, tapi boleh lah, liburan akhir semester kali ini diisi dengan liburan yang sesungguhnya... Refreshing lah, baru setelah itu, kita genjot lagi ayuhan sepeda belajar keras kita, ok?
Alhamdulillah, ane (oke, mulai sekarang, kata saya akan diganti menjadi ane) selalu bersyukur kepada Sang Maha Pengasih, apalagi karena awal liburan kali ini yang sangat-sangat-sangat deh. It is really aaaaammmmmmazing! Yeah! Langsung saja ya ane ceritakan pengalaman ngebolang ane bersama Dape, selama empat hari kemarin. Oh ya, tenang, kisah liburan di Caldera pada hari Minggu-Senin sebelumnya tidak akan lupa ane ceritakan. Saat ini ane benar-benar ngebet mau curhat soal perjalanan ane bersama salah satu sahabat ane itu, Dape.
Iseng aja, biar jelas siapa itu Dape, kapan-kapan ane akan share siapa sih si Dape ini sebenarnya, personality-nya dan lain-lain. Hm... kalau bisa, ya tidak hanya Dape seorang, semua tokoh yang pernah terlibat di blog ini, insyaAllah ane share... Okokok? Mohon ditunggu...
Senin, 19/12/11 sekitar jam setengah empat sore (Pe, kalau kurang tepat, tolong kasih tau ane ya waktunya), ane dan Dape turun dari bis pariwisata (duh, lupa mereknya, tapi yang jelas, itu bis punya icon kelinci mirip-persis-sama dengan icon majalah playboy) anak cowok kelas XII yang kembali menuju Jakarta dari Palabuhanratu setelah melaksanakan makan siang di sana bersama rombongan cewek juga dan beberapa orang tua yang ikut, serta dengan yang empunya acara tentunya, Tante Hanny dan Om Bongki, bonyok (bokap-nyokap, orang tua laki-laki dan perempuan)-nya Aisya Tamara di Cibadak. Seperti ciri khas ane, memanggil teman-teman dengan sebutan guys. Setelah mencium tangan, pamit dengan bonyoknya Erza, ane pamit dengan teman-teman di bis tersebut, "duluan ya guys...!"
The Adventure begins...
Baru saja turun dari bis, berpisah dengan teman-teman yang lain, berdua dengan Dape, ane merasa seperti akan menghadapi petualangan yang mendebarkan. Oke, itu lebay, tapi itu yang ane rasakan. Backpacker, seperti itulah kira-kira rupanya, dua anak muda dengan nama (asli) yang sama, Adam, masing-masing menggendong tas TNI hijau yang sama pula yang memiliki berat beserta isinya sekitar 10kg. Besar dan berat. Jangan lupa, pakaian kita juga sama, hitam-hitam. "Malu bertanya, lihat di peta", itu adalah motto baru ane dalam mengarungi sebuah perjalanan panjang. Susah mengambil peta yang ada di dalam tasnya Dape, kita langsung menuju salah satu polisi lalu lintas di pertigaan Cibadak yang menuju Jakarta dan (atau) Sukabumi dan bertanya angkot yang mana yang harus kita naiki agar bisa sampai ke tempat yang di-ngetemi oleh bis yang menuju Bandung. Oh ya, memang, tujuan ane dan Dape adalah ngebolang ke Bandung, langsung cabut setelah liburan dari Cikadang, Sukabumi.
Angkot pertama yang kita tumpangi catnya warna-warni. Penumpangnya tidak duduk tegak lurus dengan arah laju angkot, alias searah dengan laju angkot. Angkot ini biasa disebut omprengan. Sempit sekali di dalam, hal itu didukung oleh tas-tas kami yang besar dan berat. SubhanAllah... Awal yang sangat memprihatinkan di dalam angkot tersebut, mulai dari paha yang sudah pegal memangku tas seberat dosa, ada ibu-ibu yang turun sehingga ane repot turun-naik angkot sambil menggendong tas itu (karena ane duduk di dekat pintu), kondisi di luar yang sedang hujan sehingga percikan air masuk ke dalam mobil dan mengenai ane karena jendelanya dibuka, ane mulai kedinginan karena terpaan angin yang begitu kencang, suasana di dalam angkot yang diiringi musik-musik/lagu-lagu kesukaan salah satu teman kami, Andre, dari band Wali, sampai harga angkot, berdua sebesar Rp 10.000. Wow. Mahal.
Akhirnya turun juga di salah satu perempatan lampu merah di daerah Sukabumi. Kita langsung menemukan sebuah bis hiba besar yang mengetem. Kami kira itu yang ber-AC, sehingga awalnya kami tidak mau naik. Maklum, tujuan awal kan ngebolang, masa kocek yang harus dikeluarkan semahal liburan biasanya? Hemat dong! Namanya juga ngegembeeelll...
Setelah bertanya kepada amang-amang di dekat sana, ternyata bis itu adalah bis ekonomi, tak ber-AC dan harganya Rp15.000 (walaupun bagi Dape, Rp 15.000 itu cukup mahal. Selama ngebolang, ane merasa bahwa Dape lah yang menjadi orang Padang yang sangat perhitungan, padahal seharusnya ane yang seperti dia, bersikap hemat, ckck). Langsung deh kita naik!
Ketersiksaan di dalam bis ini tida jauh berbeda dengan di angkot sebelumnya. Mungkin sekarang sedikit lebih lega, karena bis. Tidak empet-empetan seperti di angkot omprengan yang tadi. Tapi, asap rokok tiada henti, silih berganti, lalu lalang, menerpa dan menerjang muka ane ini. Astagfirullah... parah banget. Lama-lama bisa mati ane kalau seperti ini. Ya, alhamdulillah masih hidup. Memang, jujur saja, ane sangat tidak suka, mungkin bisa dibilang benci, dengan perokok. Ya, perokok, orana yang (sedang) merokok. Oleh karena itu, siapa saja yang membaca ini, PLEASE! Jangang merokok dekat-dekat dengan ane! Oke? Syukron!
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam yang lelah dan gelap, di mana kanan-kiri, depan-belakang adalah gunung-gunung yang belum bisa dinikmati pemandangannya karena masih malam, jadi rasanya berada di tengah-tengah gunung, cahaya lampu masih sedikit, atau jarang-jarang, jadi rasanya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, akhirnya sampai juga di depan gerbang tol Padalarang. We're at Cimahi! (sebentar lagi)
Yak, langsung menghampiri angkot berwarna hijau dengan tujuan Cimahi. Sempat lupa memberi tahu, jadi planning kita malam itu adalah menginap di rumah Om Yuda, adik dari bokap ane. Beliau tinggal di Komplek Pondok Mutiara Indah, disingkat PMI, di Jalan Pesantren, Cibabat, Cimahi, Jawa Barat. Sekadar fyi aja nih, dulu ane sempat tinggal di sana, sekitar satu tahun tiga bulan, waktu ane kelas 2 SD di caturwulan ketiga sampai akhir kelas 3 SD. Setelah itu, pindah deh ke Cibubur, Jak-Tim.
Selama perjalanan, ane curhat banyak tuh ke Dape, maklum, terakhir ane datang ke daerah itu ya waktu SMP. Pernah sih waktu SMA ke Bandung, itu lho waktu study-tour ke museum iptek, geologi, dan ngegaul di Ciwalk. Tapi sama sekali tidak melewati daerah itu. Semua yang saya ceritakan memang seperngingatan (kata ini benar tidak ya dalam ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar?) saya dulu. Paling, hanya ada pagar pembatas dua arah jalan yang baru saya lihat. Sisanya, seperti kantor polisi dan terowongan jalan tol, saya masih ingat!
Sampailah di Jalan Pesantren! Dan... jalan itu sudah berubah, lebih baik tentunya. Bayar angkot, ane serahkan uang lembaran Rp 10.000 ke abangnya. Ternyata masih kurang! Kurang dua ribu. Weleh, mahal juga ya? Ckckck. Awalnya mau minta dijemput sama Om Yuda di depan Jalan Pesantren, tahu-tahunya beliau masih di kantor. Yes! Menurut ane, ini sih bagus. Jadi bisa lebih bebas ngebolangnya. Lapar. Iya, dari tadi kan belum makan malam, dan jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Hm... Ane dan Dape memutuskan, pergi menuju rumah Om Yuda dengan jalan kaki sambil mencari tempat untuk makan malam yang enak. Lumayan capek tuh. Dari depan Jalan Pesantren, kita jalan sedikit ke atas. Memang jalanannya menanjak. Berhenti di warung yang menjual makanan semacam nasi dan mie goreng. Tadinya sempat ragu-ragu juga untuk makan saat itu, karena ane berpikir, biasanya kalau ada tamu yang datang, pasti sang pemilik rumah akan menyiapkan makanan. Kalau ane makan sekarang, lalu kenyang, nanti di rumah Om Yuda ternyata Tante Wir, istri Om Yuda, sudah masak, lalu tidak dimakan? Kan tidak enak. Tapi akhirnya, ane memutuskan untuk makan juga. Dape memesan nasi goreng, dan ane mie goreng. Makan malam. Sumpah! Itu mie goreng adalah mie goreng terenak yang pernah ane coba dan makan! Entah karena lapar mungkin ya? Tapi memang enak kok! Walaupun demikian, ane tidak menghabiskannya, hanya memakan setengah piring. Tujuannya untuk memberi ruangan kosong di lambung, jikalau nanti Tante Wir sudah menyiapkan makanan, ane bisa makan lagi deh.
Memang dasar Dape, kalau makan tuh banyak banget, pantaslah badannya berisi, nggak seperti ane yang masih kurus. Sedih. Satu piring nasi goreng + setengah piring mie goreng sisaan ane yang dia minta jadi santapan makan malamnya. Masing-masing harga makanan kami adalah Rp 8.000. Hehehe, dari awal perjalanan kita memang selalu mencatat biaya yang dikeluarkan, soalnya uang yang dikeluarkan ganti-gantian dari kita untuk setiap pembayaran. Entah pakai duit ane dulu atau Dape.
Tuntas makan malam, kita lanjutkan perjalanan mendaki Jalan Pesantren tersebut. Again, ane curhat masa-masa kecil ane dulu, dan berharap bertemu siapa saja teman SD ane dulu. Namun tidak kesampaian. Melewati SD ane dulu yang bernama SDN Tresnabudi 4 yang sekarang sudah berganti nama menjadi SDN CIbabat Mandiri 5, dan sedang ada perenovasian pula. Wew. Ane juga curhat, semasa SD dulu, kalau istirahat, sesempatnya membeli chiki citos dan semacamnya ke Indomaret yang tidak jauh dari sekolahan ane, hanya demi mendapatkan tajos pokemon, hehehe. Juga ane bercerita sawah-sawahan dan jalan pintas menuju komplek yaitu sebuah dinding beton yang retak yang kemudian dijeboli oleh kami anak-anak SD sehingga terciptalah jalan pintas dari sawah menuju komplek. Waaah, banyak curhat. Sampai di depan gerbang PMI, melihat rumah kanan-kiri, dan melewati rumah Ksatria, one of my best friends. I wished he knows I passed his house, but there's no signal of him, even he didn't reply my message. Sedih. Eh, jadi curcol begini? hahaha.
Sampailah di rumah Elsa, putri pertama dari Om Yuda dan Tante Wir. Tadinya ane sempat lupa-lupa-ingat yang mana rumahnya. Setelah yakin dengan rumah yang ane tunjuk, ane buka pagar, dan pintu dibuka dan kami, ane dan Dape, disambut oleh Tante Wir. Ane maklumi, pasti seisi rumah saat itu sudah tertidur. Jadi tak enak nih membangunkan Tante Wir malam itu. Istirahat, setelah melewati sore-malam yang panjang nan melelahkan untuk menginjakkan kaki di Cimahi. Tak lupa mandi dan sholat. Baru saja mau tidur, eeeh si @Bangsath (account Twitternya Ksatria) baru balas sms. Ckckck...
Ya, itu semua baru hari pertama. Tidak full satu hari. Panjang ya? Hehehe.
Thanks deh for reading!
Ila liqo!
Wassalam!
Yak, walaupun UN akan mendatangi kita dalam hitungan hari, tapi boleh lah, liburan akhir semester kali ini diisi dengan liburan yang sesungguhnya... Refreshing lah, baru setelah itu, kita genjot lagi ayuhan sepeda belajar keras kita, ok?
Alhamdulillah, ane (oke, mulai sekarang, kata saya akan diganti menjadi ane) selalu bersyukur kepada Sang Maha Pengasih, apalagi karena awal liburan kali ini yang sangat-sangat-sangat deh. It is really aaaaammmmmmazing! Yeah! Langsung saja ya ane ceritakan pengalaman ngebolang ane bersama Dape, selama empat hari kemarin. Oh ya, tenang, kisah liburan di Caldera pada hari Minggu-Senin sebelumnya tidak akan lupa ane ceritakan. Saat ini ane benar-benar ngebet mau curhat soal perjalanan ane bersama salah satu sahabat ane itu, Dape.
Iseng aja, biar jelas siapa itu Dape, kapan-kapan ane akan share siapa sih si Dape ini sebenarnya, personality-nya dan lain-lain. Hm... kalau bisa, ya tidak hanya Dape seorang, semua tokoh yang pernah terlibat di blog ini, insyaAllah ane share... Okokok? Mohon ditunggu...
Senin, 19/12/11 sekitar jam setengah empat sore (Pe, kalau kurang tepat, tolong kasih tau ane ya waktunya), ane dan Dape turun dari bis pariwisata (duh, lupa mereknya, tapi yang jelas, itu bis punya icon kelinci mirip-persis-sama dengan icon majalah playboy) anak cowok kelas XII yang kembali menuju Jakarta dari Palabuhanratu setelah melaksanakan makan siang di sana bersama rombongan cewek juga dan beberapa orang tua yang ikut, serta dengan yang empunya acara tentunya, Tante Hanny dan Om Bongki, bonyok (bokap-nyokap, orang tua laki-laki dan perempuan)-nya Aisya Tamara di Cibadak. Seperti ciri khas ane, memanggil teman-teman dengan sebutan guys. Setelah mencium tangan, pamit dengan bonyoknya Erza, ane pamit dengan teman-teman di bis tersebut, "duluan ya guys...!"
The Adventure begins...
Baru saja turun dari bis, berpisah dengan teman-teman yang lain, berdua dengan Dape, ane merasa seperti akan menghadapi petualangan yang mendebarkan. Oke, itu lebay, tapi itu yang ane rasakan. Backpacker, seperti itulah kira-kira rupanya, dua anak muda dengan nama (asli) yang sama, Adam, masing-masing menggendong tas TNI hijau yang sama pula yang memiliki berat beserta isinya sekitar 10kg. Besar dan berat. Jangan lupa, pakaian kita juga sama, hitam-hitam. "Malu bertanya, lihat di peta", itu adalah motto baru ane dalam mengarungi sebuah perjalanan panjang. Susah mengambil peta yang ada di dalam tasnya Dape, kita langsung menuju salah satu polisi lalu lintas di pertigaan Cibadak yang menuju Jakarta dan (atau) Sukabumi dan bertanya angkot yang mana yang harus kita naiki agar bisa sampai ke tempat yang di-ngetemi oleh bis yang menuju Bandung. Oh ya, memang, tujuan ane dan Dape adalah ngebolang ke Bandung, langsung cabut setelah liburan dari Cikadang, Sukabumi.
Angkot pertama yang kita tumpangi catnya warna-warni. Penumpangnya tidak duduk tegak lurus dengan arah laju angkot, alias searah dengan laju angkot. Angkot ini biasa disebut omprengan. Sempit sekali di dalam, hal itu didukung oleh tas-tas kami yang besar dan berat. SubhanAllah... Awal yang sangat memprihatinkan di dalam angkot tersebut, mulai dari paha yang sudah pegal memangku tas seberat dosa, ada ibu-ibu yang turun sehingga ane repot turun-naik angkot sambil menggendong tas itu (karena ane duduk di dekat pintu), kondisi di luar yang sedang hujan sehingga percikan air masuk ke dalam mobil dan mengenai ane karena jendelanya dibuka, ane mulai kedinginan karena terpaan angin yang begitu kencang, suasana di dalam angkot yang diiringi musik-musik/lagu-lagu kesukaan salah satu teman kami, Andre, dari band Wali, sampai harga angkot, berdua sebesar Rp 10.000. Wow. Mahal.
Akhirnya turun juga di salah satu perempatan lampu merah di daerah Sukabumi. Kita langsung menemukan sebuah bis hiba besar yang mengetem. Kami kira itu yang ber-AC, sehingga awalnya kami tidak mau naik. Maklum, tujuan awal kan ngebolang, masa kocek yang harus dikeluarkan semahal liburan biasanya? Hemat dong! Namanya juga ngegembeeelll...
Setelah bertanya kepada amang-amang di dekat sana, ternyata bis itu adalah bis ekonomi, tak ber-AC dan harganya Rp15.000 (walaupun bagi Dape, Rp 15.000 itu cukup mahal. Selama ngebolang, ane merasa bahwa Dape lah yang menjadi orang Padang yang sangat perhitungan, padahal seharusnya ane yang seperti dia, bersikap hemat, ckck). Langsung deh kita naik!
Ketersiksaan di dalam bis ini tida jauh berbeda dengan di angkot sebelumnya. Mungkin sekarang sedikit lebih lega, karena bis. Tidak empet-empetan seperti di angkot omprengan yang tadi. Tapi, asap rokok tiada henti, silih berganti, lalu lalang, menerpa dan menerjang muka ane ini. Astagfirullah... parah banget. Lama-lama bisa mati ane kalau seperti ini. Ya, alhamdulillah masih hidup. Memang, jujur saja, ane sangat tidak suka, mungkin bisa dibilang benci, dengan perokok. Ya, perokok, orana yang (sedang) merokok. Oleh karena itu, siapa saja yang membaca ini, PLEASE! Jangang merokok dekat-dekat dengan ane! Oke? Syukron!
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam yang lelah dan gelap, di mana kanan-kiri, depan-belakang adalah gunung-gunung yang belum bisa dinikmati pemandangannya karena masih malam, jadi rasanya berada di tengah-tengah gunung, cahaya lampu masih sedikit, atau jarang-jarang, jadi rasanya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, akhirnya sampai juga di depan gerbang tol Padalarang. We're at Cimahi! (sebentar lagi)
Yak, langsung menghampiri angkot berwarna hijau dengan tujuan Cimahi. Sempat lupa memberi tahu, jadi planning kita malam itu adalah menginap di rumah Om Yuda, adik dari bokap ane. Beliau tinggal di Komplek Pondok Mutiara Indah, disingkat PMI, di Jalan Pesantren, Cibabat, Cimahi, Jawa Barat. Sekadar fyi aja nih, dulu ane sempat tinggal di sana, sekitar satu tahun tiga bulan, waktu ane kelas 2 SD di caturwulan ketiga sampai akhir kelas 3 SD. Setelah itu, pindah deh ke Cibubur, Jak-Tim.
Selama perjalanan, ane curhat banyak tuh ke Dape, maklum, terakhir ane datang ke daerah itu ya waktu SMP. Pernah sih waktu SMA ke Bandung, itu lho waktu study-tour ke museum iptek, geologi, dan ngegaul di Ciwalk. Tapi sama sekali tidak melewati daerah itu. Semua yang saya ceritakan memang seperngingatan (kata ini benar tidak ya dalam ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar?) saya dulu. Paling, hanya ada pagar pembatas dua arah jalan yang baru saya lihat. Sisanya, seperti kantor polisi dan terowongan jalan tol, saya masih ingat!
Sampailah di Jalan Pesantren! Dan... jalan itu sudah berubah, lebih baik tentunya. Bayar angkot, ane serahkan uang lembaran Rp 10.000 ke abangnya. Ternyata masih kurang! Kurang dua ribu. Weleh, mahal juga ya? Ckckck. Awalnya mau minta dijemput sama Om Yuda di depan Jalan Pesantren, tahu-tahunya beliau masih di kantor. Yes! Menurut ane, ini sih bagus. Jadi bisa lebih bebas ngebolangnya. Lapar. Iya, dari tadi kan belum makan malam, dan jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Hm... Ane dan Dape memutuskan, pergi menuju rumah Om Yuda dengan jalan kaki sambil mencari tempat untuk makan malam yang enak. Lumayan capek tuh. Dari depan Jalan Pesantren, kita jalan sedikit ke atas. Memang jalanannya menanjak. Berhenti di warung yang menjual makanan semacam nasi dan mie goreng. Tadinya sempat ragu-ragu juga untuk makan saat itu, karena ane berpikir, biasanya kalau ada tamu yang datang, pasti sang pemilik rumah akan menyiapkan makanan. Kalau ane makan sekarang, lalu kenyang, nanti di rumah Om Yuda ternyata Tante Wir, istri Om Yuda, sudah masak, lalu tidak dimakan? Kan tidak enak. Tapi akhirnya, ane memutuskan untuk makan juga. Dape memesan nasi goreng, dan ane mie goreng. Makan malam. Sumpah! Itu mie goreng adalah mie goreng terenak yang pernah ane coba dan makan! Entah karena lapar mungkin ya? Tapi memang enak kok! Walaupun demikian, ane tidak menghabiskannya, hanya memakan setengah piring. Tujuannya untuk memberi ruangan kosong di lambung, jikalau nanti Tante Wir sudah menyiapkan makanan, ane bisa makan lagi deh.
Memang dasar Dape, kalau makan tuh banyak banget, pantaslah badannya berisi, nggak seperti ane yang masih kurus. Sedih. Satu piring nasi goreng + setengah piring mie goreng sisaan ane yang dia minta jadi santapan makan malamnya. Masing-masing harga makanan kami adalah Rp 8.000. Hehehe, dari awal perjalanan kita memang selalu mencatat biaya yang dikeluarkan, soalnya uang yang dikeluarkan ganti-gantian dari kita untuk setiap pembayaran. Entah pakai duit ane dulu atau Dape.
Tuntas makan malam, kita lanjutkan perjalanan mendaki Jalan Pesantren tersebut. Again, ane curhat masa-masa kecil ane dulu, dan berharap bertemu siapa saja teman SD ane dulu. Namun tidak kesampaian. Melewati SD ane dulu yang bernama SDN Tresnabudi 4 yang sekarang sudah berganti nama menjadi SDN CIbabat Mandiri 5, dan sedang ada perenovasian pula. Wew. Ane juga curhat, semasa SD dulu, kalau istirahat, sesempatnya membeli chiki citos dan semacamnya ke Indomaret yang tidak jauh dari sekolahan ane, hanya demi mendapatkan tajos pokemon, hehehe. Juga ane bercerita sawah-sawahan dan jalan pintas menuju komplek yaitu sebuah dinding beton yang retak yang kemudian dijeboli oleh kami anak-anak SD sehingga terciptalah jalan pintas dari sawah menuju komplek. Waaah, banyak curhat. Sampai di depan gerbang PMI, melihat rumah kanan-kiri, dan melewati rumah Ksatria, one of my best friends. I wished he knows I passed his house, but there's no signal of him, even he didn't reply my message. Sedih. Eh, jadi curcol begini? hahaha.
Sampailah di rumah Elsa, putri pertama dari Om Yuda dan Tante Wir. Tadinya ane sempat lupa-lupa-ingat yang mana rumahnya. Setelah yakin dengan rumah yang ane tunjuk, ane buka pagar, dan pintu dibuka dan kami, ane dan Dape, disambut oleh Tante Wir. Ane maklumi, pasti seisi rumah saat itu sudah tertidur. Jadi tak enak nih membangunkan Tante Wir malam itu. Istirahat, setelah melewati sore-malam yang panjang nan melelahkan untuk menginjakkan kaki di Cimahi. Tak lupa mandi dan sholat. Baru saja mau tidur, eeeh si @Bangsath (account Twitternya Ksatria) baru balas sms. Ckckck...
Ya, itu semua baru hari pertama. Tidak full satu hari. Panjang ya? Hehehe.
Thanks deh for reading!
Ila liqo!
Wassalam!